Karmina bisa dibilang sebagai sebuah pantun kilat karena mirip dengan pantun, tapi jauh lebih pendek. Karmina hanya terdiri dari dua baris; baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi yang mempunyai pola a-a. Dalam budaya masyarakat Betawi, karmina sering digunakan dalam prosesi pernikahan dan pesta budaya lainnya.
Sepanjang perkahwinan, tiada lagi kata2 kesat keluar dari mulut suami yang boleh menyinggung perasaan saya sebagai isteri. Namun, setelah kejadian yang terjadi pada tahun lepas antara saya dan keluarga suami, ia banyak mengajar saya erti ikhlas dan kepentingan diri. Pada tahun lepas, saya mengikuti keluarga suami untuk bercuti.
Lain di mulut, lain di hati. Lain di mulut, lain di hati. (Peribahasa lain yang sama makna: Angguk bukan, geleng ia). Hidup yang serba susah. anggup-anggip = terkulai-kulai. Angin berputar, ombak bersabung. Angin bersiru, kami tahu. Angin bersiru, ombak bersabung. Angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam. Angkat batang keluar cacing
Lain di mulut, lain di hati. Artinya: Ucapan dan hati tidak sama. 3. Mulut manis mematahkan tulang. Artinya: Perkataan yang lemah lembut dapat menyebabkan orang lain patuh. 4. Karena mulut bisa binasa. Artinya: Perkataan yang tidak baik dapat menimbulkan bahaya bagi diri sendiri. 5. Bermulut di mulut orang. Artinya: Perkataan orang lain yang
Dalam bahasa Minangkabau juga popular peribahasa: “Barundiang siang caliak-caliak, mangecek malam agak-agak”. Arti pepatah di atas adalah berbicaralah dengan penuh hati-hati dan jangan menyinggung orang lain. Sebuah perkataan yang sudah dikeluarkan sulit untuk ditarik lagi. Dia akan meninggalkan bekas yang sulit untuk dihapus.
0FoCbs.
peribahasa karena mulut badan binasa